A Feast for Crows, Meski Terlemah Tetap Memahat Kerinduan

Oleh: Syafril Agung Oloan Siregar



Tensi menurun, tempo lambat, tetapi detail. A Feast for Crows mungkin dianggap sebagai urutan terakhir soal kualitas, tetapi satu yang mesti ingat, buku-buku A Song of Ice and Fire itu kualitas mahakarya. Jadi, menjadi yang terburuk di antara mahakarya seharusnya bukanlah pencapaian yang terlalu buruk. Salah satu alasan yang membuat A Feast for Crows banyak dikritik adalah absennya tiga tokoh utama Martin yang paling digemari: Daenerys Targaryen, Tyrion Lannister, dan Jon Snow (Jon hanya muncul sebentar di chapter Samwel).

A Feast for Crows menceritakan banyak hal yang sebelumnya tidak tersentuh oleh semesta A Song of Ice and Fire. Ceritanya berkisah setelah 'meredanya' perang lima raja karena empat dari lima raja sudah mati. Stannis yang merupakan satu-satunya raja yang tersisa tidak banyak disorot bahkan tidak muncul sama sekali.

Sebagai gantinya, A Feast fot Crows bercerita tentang wilayah selatan, Dorne yang belum pernah dibahas secara khusus; Iron Islands yang 'ternyata' mampu sedikit menggeser perspektif; dan Brienne dengan petualangannya yang terkadang membuat kening berkerut.

Tensi Menurun Cerita Baru Terbangun


A Feast for Crows berseting setelah Perang Lima Raja, hal ini dapat dilihat dari bagaimana A Feast for Crows menggambarkan kehancuran yang dihasilkan oleh peperangan panjang penuh ego dan harga diri itu. Lewat sudut pandang Brienne dan Jaime, dapat dilihat bahwa kerajaan benar-benar runtuh akibat perang yang menelan puluhan ribu prajurit dan rakyat sipil tersebut.

Brienne merekam banyak kejadian yang menunjukkan bahwa suasana perang sudah membuat rakyat Tujuh Kerajaan paranoid dan trauma. Trauma itu membuat mereka kurang terbuka kepada orang asing, apalagi bersenjata. Perang juga menghasilkan banyak bandit-bandit kelas teri yang merampok untuk bisa makan.

Masih lewat Brienne, pembaca dapat mengikuti banyaknya perkampungan yang hangus akibat peperangan. A Feast for Crows banyak memberikan gambaran bahwa dalam perang, tidak ada yang namanya protagonis. Semuanya sama, semuanya memiliki motif dan dapat berbuat kejahatan di medan perang: membakar, membunuh, dan merampas dari orang yang tidak bersalah. Stark, Lannister, dan Baratheon hanyalah merek. Mereka tetaplah orang yang memiliki tujuan berperang yang sama: mempertahankan harga diri.

Selain konsekuensi perang, A Feast for Crows juga menggambarkan proses pemerintahan yang salah lewat sudut pandang Cersei. Cersei sejak dari awal cerita di buku pertama memang sudah diperlihatkan sebagai ratu yang ambisius dan licik. Banyak yang tidak menyukai karakternya karena itu. Cersei di A Feast for Crows tidak digambarkan lebih baik secara moral, tetapi proses berpikirnya membuat karakter Cersei 'lebih terasa'.

Di sini, ia diperlihatkan sebagai karakter yang tidak memiliki kalkulasi dan strategi pemerintahan yang matang. Ia narsis dan menganggap dirinya yang paling hebat dalam segala hal, nyatanya ia adalah penghancur untuk dirinya sendiri. Berbagai keputusannya menggambarkan proses pemerintahan yang salah dan tolol.

Kisah yang tidak kalah menarik juga terjadi di dua tempat yang berjauhan, Dorne dan Iron Island. Bila di Dorne, wilayah yang hampir tak tersentuh perang terjadi sebuah pergolakan usai matinya Pangeran Oberyn Martell di buku ketiga, di Iron Islands terjadi perebutan takhta antara dua adik Balon Greyjoy, Euron dan Victarion dan putri Balon, Asha.

Memang, tak banyak tokoh-tokoh sentral di novel-novel sebelumnya yang muncul di sini, tetapi masih ada Sansa, Arya, dan Samwell yang memiliki petualangannya masing-masing.

Bagian Terburuk? Iyakah?


A Feast for Crows seperti disebutkan sebelumnya adalah bagian terburuk dari A Song of Ice and Fire. Sebenarnya pendapat ini juga ada kontranya. Banyak yang merasa kalau yang sebenarnya paling buruk adalah novel kelima, A Dance with Dragons yang sebagian besar plotnya terlihat hanya menunda-nunda kemajuan ceritanya. Kalau menurut saya pribadi, A Feast for Crows lebih tepat dilabeli sebagai keluaran terburuk A Song of Ice and Fire.

Menurut saya, Feast banyak kehilangan sentuhan-sentuhan ajaib dan suasana cerita novel sebelumnya. Alih-alih mencoba untuk melanjutkan cerita yang belum selesai, novel ini mencoba untuk memulai cerita baru. Novel ini terlihat sebagai novel tersendiri yang hanya mengambil latar yang sama dengan pendahulunya.

Selain itu, Feast juga banyak kehilangan momen-momen ikonik yang akan dikenang oleh pembaca. Hal ini membuat novel ini kurang berkesan karena kebanyakan plotnya tidak terlalu melekat dan memberikan ekspresi superlatif bagi pembacanya.

Novel ini masih dapat memahat cinta di hati pembacanya karena susunan kata-katanya masih sangat khas dari sang penulis, George R. R. Martin. Masalahnya, novel ini terlalu bayak menawarkan cerita baru tetapi kurang banyak memberikan pembahasan lanjut bagi cerita lama.

A Feast for Crows memang harus diakui merupakan bagian paling lemah di antara saudara-saudaranya yang lain, tetapi bukan berarti buku ini tidak memiliki keunggulan. Buku ini unggul dalam jangkauan area yang lebih luas. Bila cerita-cerita sebelumnya hanya berfokus di ibukota, Essos, the Wall, dan sebagian wilayah Utara dan Riverlands, Feast memberikan perluasan latar dengan menceritakan wilayah Vale, Dorne, dan Iron Islands dengan lebih detail dan intens.

A Feast for Crows juga memperluas khazanah penceritaan A Song of Ice and Fire agar tidak hanya bercerita sebagian. Meskipun dalam prosesnya tidak sempurna, keberanian Martin dalam bercerita seperti ini layak diberikan jempol. Plotnya memang tidak semulus tiga buku pertama, tetapi ceritanya semakin luas dan beberapa kali dapat menjawab beberapa pertanyaan yang ditanyakan dalam buku-buku sebelumnya.

Penutup

A Feast for Crows adalah novel yang masih mampu memahat cinta bagi penggemar setia A Song of Ice and Fire. Buku ini memang buku terlemah dari rangkaian cerita panjang Martin di semesta maha luas ini. Meskipun terlemah, Feast masih sanggup bercerita dengan lantang dikarenakan jangkauan area dan ambisi Martin dalam pengembangan ceritanya. Adios.

#30DWCDay23

Comments