Khalifah Abdullah bin Muhammad As-Safah, Sang Penumpah Darah atau Sang Dermawan?

Oleh: Syafril Agung Oloan Siregar
Ilustrasi Perang Abbasiyah


Diujung-ujung pemerintahan Dinasti Umayah, tepatnya setelah masa Khalifah Hisyam bin Abdul Malik, Dinasti Umayyah mulai goyang dan beberapa kali mengalami perang saudara. Salah satu yang terkemuka adalah perang antara Khalifah al-Walid bin Yazid bin Abdul Malik dengan Yazid bin al-Walid bin Abdul Malik. Al-Walid kalah perang kemudian dipenggal. Kematian al-Walid menyisakan banyak dendam. Ditambah dari gerakan Abbasiyah dan Syiah, kehancuran Umayah pun tinggal menunggu waktu.


Orang pertama yang menyerukan kebangkitan Bani Abbasiyah adalah Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas, ayah Abul Abbas. Setelah kematian Muhammad, maka Ibrahim al-Imam saudara Abul Abbas pun melanjutkan perjuangan. Khalifah Marwan bin Muhammad kemudian mendengar kabar dan Ibrahim ditangkap kemudian dibunuh. Sebelumnya, Ibrahim sudah membaiat adiknya, Abdullah bin Muhammad atau Abul Safah sebagai khalifah.

LEGITIMASI DINASTI ABBASIYAH


Dinasti Abbasiyah melegitimasi pemerintahan mereka berdasarkan pada hubungan nasab dengan Rasulullah SAW, dimana Abbas adalah paman dari Nabi. Mereka juga menggunakan beberapa ayat al-Qur'an dan hadits Nabi. Misalnya menggunakan QS. 33:33 dan QS. 42:23 sebagai dasar bahwa kepemimpinan haruslah dari keluarga rasul.

Imam Thabari memulai pembahasan tentang kekhalifahan Abbasiyah dengan mengutip riwayat ini:

وكان بدء ذلك- فيما ذكر عن رسول الله ص- انه اعلم العباس ابن عبد المطلب انه تؤول الخلافة إلى ولده، فلم يزل ولده يتوقعون ذلك، ويتحدثون به بينهم

“Awal mula kekhilafahan Bani Abbas adalah bahwa Rasulullah memberitahukan kepada Abbas, pamannya, bahwa khilafah akan ada di tangan anak cucunya. Sejak itulah Bani Abbas membayangkan datangnya khilafah tersebut, dan mereka menyampaikan riwayat ini di kalangan mereka.”

Tetapi riwayat ini disebutkan lemah karena Imam Thabari tidak menyebutkan sanad dan matannya. Imam Suyuthi juga menyebutkan kalau riwayat ini cukup lemah.

Serangan juga hadir dari pernyataan bahwa mengapa harus keturunan Abbas bukan keturunan nabi langsung. Maka dibalaslah dengan riwayat di Sunan at-Tirmidzi. “Abbas adalah bagian dariku dan aku (Nabi Muhmamad) adalah bagian darinya”; “Siapa pun yang menyakiti pamanku (Abbas) berarti dia telah menyakitiku”; dan “Paman seseorang adalah saudara kandung ayahnya atau termasuk dari bagian ayahnya”.

Imam Tirmidzi juga meriwayatkan tentang doa nabi agar mengampuni dosa-dosa keturunan Abbas yang bagi sebagian pihak dianggap sebagai pembelaan atas pertumpahan darah yang dilakukan oleh Dinasti Abbasiyah.

Mereka juga membujuk kaum Syiah dengan mengklaim bahwa ini bukanlah Dinasti Abbasiyah tetapi Dinasti Hasyimiyah. Tetapi, nyatanya Syiah tetap marjinal di masa Abbasiyah.

KHALIFAH PERTAMA DINASTI ABBASIYAH

Pergerakan Abbasiyah semakin gencar usai kematian Ibrahim. Abul Safahdibaiat di Kufah pada 3 Rabiul Awal 132 H. Abul Safah kemudian memusatkan kekuatan di Kufah. Pengangkatan Abdullah sebagai khalifah pun terdengar oleh Khalifah Marwan bin Muhammad.

Marwan membawa pasukannya untuk membasmi pemberontakan. Abdullah bin Ali, paman Abul Safah kemudian melawan pasukan Marwan di daerah dekat Mosul. Setelah perlawanan sengit, pasukan Marwan pun dapat dikalahkan. Marwan selamat dan sempat kabur ke Syam. Namun Abdullah tetap mengejarnya hingga ia kabur ke Mesir. Pengejaran dilanjutkan oleh Shalih, adiknya. Marwan kemudian terbunuh di suatu desa di Bashir pada 132 H.

Abul Abbas tidak terlalu fokus pada bidang perluasan wilayah. Ia lebih fokus menguatkan pilar-pilar negara dan memadamkan pergolakan di wilayah Turki dan Asia Tengah. Pada zaman Abbasiyah lah pertama kali tercipta Wazir (menteri). As-Safah juga membangun ibukota baru, Baghdad dari sebelumnya Kufah.

KEBINGUNGAN AHLI SEJARAH

Dalam bahasa Arab, kata as-Safah memiliki makna ganda. Yang pertama berarti dermawan sedangkan yang kedua berarti penumpah darah. Abu al-Abbas Abdullah bin Muhammad, khalifah pertama Abbasiyah dijuluki dengan as-Safah dan masih ambigu apa tujuan sebenarnya ia dijuluki seperti itu.

Jika merujuk pada sejarah, termashhur dua nama yang terkenal kejam terhadap musuh yaitu: Abu Muslim al-Khurasni dan Abdullah bin Ali. Keduanya terkenal sebagai jagal dan pembantai. Sedangkan sang khalifah, Abdullah bin Muhammad adalah seorang yang terkenal dermawan.

Sebagian sejarawan bersandar dengan sebuah hadits shahih riwayat Muslim, dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَكُوْنُ فِيْ آخِرِ أُمَّتِيْ خَلِيْفَةٌ يَحْثِي اْلَمَالَ حَثْيًا لاَ يَعُدُّهُ عَدَدًا.

“Di akhir umatku akan ada seorang khalifah yang akan membagi-bagikan harta dengan kedua tangannya tanpa ada yang dapat menghitungnya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Fitan wa Asyrath as-Sa’ah 2913).

Sedangkan dikutip oleh Imam Thabari, pada saat dilantik jadi khalifah, Abul Abbas berpidato seperti ini:

يا أهل الكوفة، أنتم محل محبتنا ومنزل مودتنا

أنتم الذين لم تتغيروا عن ذلك، ولم يثنكم عن ذلك تحامل أهل الجور عليكم، حتى أدركتم زماننا، وأتاكم الله بدولتنا، فأنتم أسعد الناس بنا، وأكرمهم علينا، وقد زدتكم في أعطياتكم مائة درهم، فاستعدوا، فأنا السفاح المبيح، والثائر المبير.

“Wahai penduduk Kufah, kalian adalah tempat berlabuh kecintaan kami, dan rumah idaman kasih sayang kami. Dan tidaklah kalian melakukan hal-hal yang bertentangan dengan itu, dan kalian tidak tergoda oleh tindakan para pembangkang sampai Allah mendatangkan kekuasaan kami. Kalian adalah orang yang paling berbahagia dengan adanya kekuasaan kami di tengah kalian. Kalian adalah orang yang paling mulia di mata kami. Dan kami telah menambah gaji kalian seratus dirham. Bersiaplah kalian, karena saya adalah penumpah darah yang halal (al-saffah al-mubih) dan pembalas dendam yang siap membinasakan siapa pun juga (al-tsa’ir al-mubir).”


Disinilah datang perbedaan pendapat. Disatu sisi berpendapat bahwa sang khalifah dijuluki as-Safah karena kedermawanannya. Sedangkan yang lain berpendapat karena pertumpahan darah yang terjadi.

Begini, di zamannya terdapat salah kaprah antara Abdullah bin Muhammad (Abul Abas) dengan Abdullah bin Ali (pamannya). Sehingga label penumpah darah yang seharusnya dilabeli ke Abdullah bin Ali pun salah sasaran.

Abdullah bin Ali konon membantai 90 orang keluarga Umayah hingga hanya beberapa yang meloloskan diri. Karena itulah, seharusnya ia yang dijuluki Penumpah Darah. Meskipun tidak dipungkiri bahwa as-Safah bagi Abul Abbas itu dapat berarti positif. Karena seorang khalifah untuk apa menjuluki dirinya sendiri pembunuh atau penjagal.

Abul Abbas wafat pada usia 33 tahun karena sakit. Ia menunjuk saudaranya, al-Mansur sebagai penggantinya.

Referensi: Republika, geotimes.co.id, Kisah Islami.

Comments