Jelajah Kejayaan Sumedang di Museum Prabu Geusan Ulun
Oleh: Syafril Agung Oloan Siregar

Kota Sumedang, sebuah kota yang identik dengan sebuah makanan yang persebarannya bagaikan jamur di musim hujan. Tahu Sumedang, begitu kita menyebut makanan tersebut. Meskipun populer, Sumedang bukanlah hanya tentang tahu. Sumedang memiliki segudang keindahan lain yang akan sangat sayang untuk dilewatkan.
Kali ini, keindahan wisata yang akan dibahas adalah wisata sejarah. Kalau bicara sejarah, yang paling identik tentu saja adalah musem. Museum adalah wajah peradaban. Lewat museumlah kita bisa melihat suatu peradaban.
Begitu juga dengan Sumedang. Lewat museumnyalah kita dapat mengungkap keindahan dan kekayaan peradabannya. Museum yang akan kita bahas kali ini adalah Museum Prabu Geusan Ulun.
Jika ditanya mengapa harus museum ini, maka jawabannya adalah museum ini adalah bukti sahih yang sangat komplet untuk membuktikan bahwa Sumedang itu punya peradaban yang besar. Museum ini adalah bukti sahih adanya Kerajaan Sumedang Larang dan kerajaan-kerajaan Sumedang lain di masa lalu. Museum ini adalah pembuktian kejayaan kerajaan itu. Museum ini jugalah yang merangkum jasa-jasa para pemimpin Sumedang, para bupatinya, para pahlawannya.
Sekilas Sejarah Bumi Sumedang

Museum Prabu Geusan Ulun adalah sebuah bukti sejarah yang kuat mengenai Kerajaan Sumedang Larang. Memangnya, apa sih kerajaan ini? Mengapa kita, generasi muda harus banget tahu dan mengunjungi museum ini. Mari simak sekilas cerita berikut.
Sebenarnya, jika kita rajin mencari dan tertarik dengan sejarah Nusantara, kisah-kisah tentang kerajaan-kerajaan yang pernah berdiri di Bumi Sumedang sudah banyak tercatat di berbagai kitab-kitab kuno. Kitab-kitab yang menceritakannya antara lain Carita Parahyangan dan Catatan Bujangga Manik. Selain itu, kisah-kisahnya juga terdapat di kitab Waruga Jagat, Carita Ratu Pakuan, Pustaka Rajya-Rajya I Bhuni Nusantara Parwa III Sarga 2(1682), Kropak 410 dan Pustaka Nagara Kretabhumi Parwa I Sarga 2 (1694).
Pada Carita Parahiyangan misalnya, diceritakan bahwa terdapat sebuah negeri atau kerajaan yang terletak di sekitar kaki Gunung Tompo Omas. Kerajaan itu bernama Kerajaan Medang Kahiyangan (Saat ini, kira-kira terletak di sekitar Kecamatan Conggeang dan Kecamatan Buah Dua. Kerajaan ini berdiri di sekitar tahun 252 - 290).
Raja-raja Medang Kahiyangan adalah keturunan Raja Salakanegara kelima (Kerajaan Salakanegara adalah salah satu kerajaan paling tua di Nusantara),
Prabu Dharma Satya Jaya Waruna Dewawarman. Raja ini juga merupakan menantu dari Dewawarman IV. Meskipun sudah ada kerajaan, tetapi cerita tentang Medang Kahiyangan sangatlah minim di Carita Parahiyangan. Padahal, peninggalan kerajaan ini cukup banyak di sekitar Gunung Tompo Omas.
Lain sumber lain pula ceritanya. Di Catatan Bujangga Manik, kerajaan yang dikisahkan bukanlah Medang Kahiyangan. Di buku perjalanan Bujangga Manik ini, yang dikisahkan adalah Kerajaan Sumedang Larang. Kerajaan yang berada di sekitar Cipameungpeuk. (Wilayah Sumedang Selatan, arah menuju Bandung).
Selain kedua kerajaan ini, sebenarnya terdapat pula kerajaan Medang Sasigar yang juga terletak di sebelah selatan Sumedang. Sayangnya, sumber sejarahnya sangatlah minim. Hampir tidak ada.
Di antara semuanya, Kerajaan Sumedang Laranglah yang ternyata memiliki peran paling menonjol dalam sejarah Sumedang. Hal ini adalah karena wilayahnya yang membentang luas sehingga perkembangannya juga sangat berpengaruh pada sejarah, budaya, dan sosial-politik Sumedang.
Pada dasarnya, keberadaan Kerajaan Sumedang Larang tidak akan pernah bisa dipisahkan dengan perkembangan Kerajaan Galuh, salah satu kerajaan besar di Tanah Sunda. Bagaimana kisahnya? Simak kelanjutannya.
Dulu, ketika Kandiawan atau Rajaresi Dewaraja (597 – 612), Raja Kendan (pendahulu Galuh) ketiga pensiun, ia pun menunjuk putranya, Wretikandayun sebagai penggantinya. Raja baru ini, yang saat dinobatkan berusia 21 tahun kemudian mendirikan ibu kota baru, Galuh.
Wretikandayun menikah dengan Manawati, putri Resi Makandria (salah satu resi besar Kendan yang ikut menyebarkan Hindu ke Bali). Dari pernikahan mereka, lahirlah tiga putra, yaitu Sempakwaja (620), Jantaka (622) dan Amara / Mandiminyak (624).
Putra tertua, Sempakwaja mempunyai dua orang putra, Purbasora dan Demunawan. Sempakwaja nantinya akan menjadi leluhur raja-raja di Kerajaan Sunda. Putra kedua Wretikandayun, Jantaka mempunyai seorang putra, Aria Bimaraksa. Aria Bimaraksa nantinya akan mengabdi sebagai Patih Galuh pada masa pemerintahan sepupunya, Prabu Purbasora.

Nah, di kemudian hari Aria Bimaraksa atau yang dikenal juga sebagai Ki Balangantrang atau Sanghyang Resi Agung setelah pensiun inilah yang akan menurunkan raja-raja Kerajaan Sumedang Larang.
Terakhir, putra keriga Wretikandayun, Amara / Mandiminyak di kemudian hari akan menurunkan raja-raja Jawa.
Intinya, dapat dikatakan kalau Raja Galuh (Sunda), Sumedang Larang, dan Jawa adalah satu garis keturunan, yaitu dari Raja Wretikandayun, Raja Kendan.
Begitulah sedikit cerita singkat sejarah Sumedang. Jadi, sudah paham kan mengapa museum ini sangat penting. Iya, museum ini menyimpan harta karun yang berpengaruh bukan hanya bagi masyarakat Sumedang tetapi bagi seluruh rakyat Indonesia.
Bangunan Klasik Bercampur Bangunan Modern

Museum Prabu Geusan Ulun pertama kali dibuka pada tahun 1973, tepatnya 11 November 1973. Meskipun begitu, pengumpulan benda-benda sejarahnya sudah mulai dilakukan sejak 1955 oleh Yayasan Pangeran Sumedang. Tujuannya adalah untuk memperlihatkan kepada masyarakat Sumedang dan luar Sumedang bahwa di Sumedang pernah ada peradaban luar biasa.
Pada awalnya, museum ini dinamai Museum Pangeran Sumedang. Pada 1974, diadakanlah seminar sejarah dan pembahasan nama museum. Setelah pembahasan panjang dan tinjauan sejarah yang dilakukan oleh berbagai ahli, terpilihlah nama Raja terakhir Sumedang Larang, Prabu Geusan Oeloen (1578 - 1601) sebagai nama museum. Untuk memudahkan, digunakanlah ejaan baru menjadi nama museum, Museum Prabu Geusan Ulun.
Museum ini terdiri dari enam bangunan. Tiga di antaranya merupakan pusat pemerintahan Sumedang di masa lalu, sedangkan tiga lainnya adalah gedung yang didirikan kemudian untuk keperluan museum. Adapun gedung-gedung itu adalah: Gedung Sri Manganti, Gedung Bumi Kaler, Gedung Gendeng, Gedung Gamelan, Gedung Pusaka, dan Gedung Kereta.
Gedung Sri Manganti didirikan pada 1706, di masa pemerintahan Dalem Adipati Tamumaja. Sejak saat itu, gedung ini dijadikan kantor bupati. Gedung ini sendiri pernah didiami oleh Pangeran Kornel, Cadas Pangeran, pangeran Sumedang yang tersohor sebagai orang yang memimpin perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda. Di gedung ini, tersimpan banyak peninggalan raja-raja dan bupati-bupati yang telah memerintah di Sumedang. Penjelasan dan data-datanya juga lumayan lengkap dan informatif.
Gedung Bumi Kaler yang berarti gedung utara berdiri tahun 1850 pada masa pemerintahan Pangeran Soeria Koesoemah Adinata (Pangeran Soegih). Awalnya, gedung ini mempunyai kembaran di sebelah selatan. Sayangnya, akibat kurang terawat, gedung itu pun rusak dan tersisalah gedung ini. Di dalamnya, banyak manuskrip-manuskrip kuno yang kebanyakan beraksara Arab.
Adapun Gedung Gendeng berdiri di tahun yang sama dengan Gedung Bumi Kaler. Di gedung ini, tersimpan berbagai benda pusaka seperti tombak, keris, kujang, bahkan berbagai meriam peninggalan Belanda. Biasanya, benda-benda pusaka ini akan dicuci menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tujuannya adalah untuk menyucikan benda-benda itu (kalau mau lihat langsung, silakan datang pada bulan Maulid).
Gedung selanjutnya adalah Gedung Gamelan yang didirikan pada 1973 oleh Pemerintah Kabupaten Sumedang. Di sini, tersimpan banyak gamelan. Termasuk satu gamelan yang dibuat di Thailand, Gamelan Sari Oneng Parakansalak. Ada pula gamelan yang dulu sempat dipamerkan di Menara Eiffel, Paris, Perancis pada perayaan seratus tahun Revolusi Perancis di tahun 1898.
Gedung selanjutnya adalah Gedung Pusaka yang didirikan pada 1997. Gedung ini merupakan ikon dari Museum Prabu Geusan Ulun. Di sini, tersimpan berbagai pusaka seperti mahkota raja dan pusaka tujuh. Pusaka tujuh adalah tujuh buah senjata yang bervariasi ukuran dan bentuknya.
Terakhir, ada gedung Kereta yang menyimpan kereta yang dahulu digunakan oleh para raja. Ketika masih berfungsi, kereta ini ditarik menggunakan tenaga manusia. Kini, kereta ini hanyalah sebuah hiasan yang dipajang di gedung yang berdiri pada 1990 ini.
Melihat keragaman waktu pendirian gedung yang bervariasi, dapat dilihat bahwa Museum ini adalah perpaduan dari bangunan klasik dengan bangunan modern. Sebuah perpaduan arsitektur yang indah dan bernilai seni tinggi.
Gamelan dan Menara Eiffel

Tahun 1889 takkan pernah dapat dilupakan, baik oleh rakyat Perancis maupun rakyat Indonesia. Bagi rakyat Perancis, tahun itu adalah perayaan seratus tahun Revolusi Perancis, sebuah persitiwa di mana rakyat Perancis menggulingkan kekuasaan kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Raja Louis XVI. Bagi mereka, revolusi tersebut adalah awal penegakan hak asasi manusia.
Jika bagi rakyat Perancis itu adalah sebuah perayaan sejarah yang agung, bagi rakyat Indonesia itu adalah sebuah momen sejarah yang tidak kalah indah. Meskipun saat itu masih terkungkung dengan penjajahan, Indonesia mampu memukau dunia dengan kebudayaannya. Lewat gamelan lah hal itu dapat terwujud. Tepat di perayaan Revolusi Perancis. Tepat di kaki Menara Eiffel yang baru diresmikan.
Saat itu, gamelan bukan hanya menjadi pengiring kebahagiaan di hari itu. Gamelan juga akan menjadi sumber inspirasi seorang anak muda bernama Claude Debussy. Pemuda yang saat itu berusia 27 tahun ini adalah seorang komponis hebat dan berbakat. Ketika mendengarkan keharmonisan irama dan ritme gamelan yang unik itulah ia jatuh cinta. Gamelan pun menjadi salah satu inspirasinya dalam menggubah lagu.
Debussy berkata, "Jika mendengar alunan gending Jawa dengan telinga Eropa yang normal, Anda harus mengakui bahwa musik kita tak lebih daripada sekadar bunyi-bunyi dasar sirkus keliling." Ia benar-benar sangat mengagumi gamelan. Ia bukan sekadar kagum, gamelan nantinya akan sangat berpengaruh padanya. Pada karya-karya.
Hal ini dapat dilihat dari nada pentatonik Pagodes (pagoda), bait pertama d'Estampes (ilustrasi), bahkan di dua belas prelude karyanya di selang tahun 1910 - 1913. Ketika ia kembali dari Laut selatan, ia bahkan menulis, "Leur conservatoire, c'est le rythme éternel de la mer, le vent dans les feuilles ....”(Konservatori mereka adalah ritme abadi lautan, embusan bayu pada dedaunan ....) Sebuah ungkapan kekaguman yang sangat indah.
Kini, gamelan yang menjadi inspirasi komponis besar Perancis ini terpajang dengan rapi di Museum Prabu Geusan Ulun. Sebuah kebanggaan besar dan alasan lain yang membuat tempat ini harus dikunjungi dan layak dijadikan situs sejarah dunia.
Lokasi, Biaya, dan Tips
Museum Prabu Geusan Ulun berada di pusat kota Sumedang. Tepatnya, 50 meter dari alun-alun kota. Lokasinya sangat strategis dan itu merupakan nilai tambah tersendiri. Untuk akses transportasi, jangan khawatir. Aksesnya sangat mudah. Baik dari arah bandara ataupun dari manapun semuanya mudah.
Taksi, angkot, dan kendaraan umum lain banyak yang melintas di sini. Arahnya juga tidak membingungkan. Banyak plang-plang kota yang menunjukkan arahnya. Cukup ikuti arahan menuju ke alun-alun kota dan taraa ... Anda telah sampai.

Adapun biaya, untuk dewasa adalah 3000 Rupiah, sedangkan untuk anak-anak 2000 Rupiah dan wisatawan asing 10000 Rupiah. Museum buka Senin - Kamis dan Sabtu mulai pukul 08.00 - 16.00 WIB.
Sekadar tips, karena ini adalah tempat yang banyak peninggalan-peninggalan berharganya, maka disarankan untuk berhati-hati dan dapat menjaga sikap. Foto-foto sih boleh. Asalkan dapat menjaga sikap dan tidak lebai. Selamat berlibur dan menikmati keindahan sejarah Sumedang! Adios!
Referensi:
www.kompasiana.com
www.sukabumiupdate.com
www.sumedangtandang.com
www.www.tempatwisata.pro
www.museumprabugeusanulun.org
www.situsbudaya.id
Referensi:
www.kompasiana.com
www.sukabumiupdate.com
www.sumedangtandang.com
www.www.tempatwisata.pro
www.museumprabugeusanulun.org
www.situsbudaya.id
Comments
Post a Comment