Licorice Pizza, Bukanlah Sekadar Sajian Nostalgia Biasa

Oleh: Syafril Agung Oloan Siregar



Judul

: Licorice Pizza

Sutradara

: Paul Thomas Anderson

Penulis Skenario

: Paul Thomas Anderson

Genre

: Drama, Komedi, Romance

Pemain/Pengisi Suara

: Alana Haim, Cooper Hoffman, Sean Penn, Bradley Cooper, Tom Waits, Benny Safdie, John C. Reily, Maya Rudolph

Rilis

: 26 November 2021 (AS)

Durasi

: 133 Menit


Ini adalah sebuah kisah perjalanan dua insan yang jatuh hati satu sama lain, memiliki rasa yang tulus kepada satu sama lain, tetapi di sisi lain mereka tidak mungkin bersatu. Mereka bukan orang yang tepat untuk satu sama lain, karena terlalu banyak jurang yang memisahkan antara mereka. Dan jurang terbesar adalah jurang yang paling curam, usia.

Usia adalah jurang yang sangat menjebak. Walau beberapa orang mungkin dapat mengatakan kalau di masa sekarang usia bukanlah penghalang bagi dua orang untuk dapat bersatu. Tetapi pada nyatanya, perbedaan usia masihlah sebuah isu yang seringkali diperbincangkan. Baik dari segi perspektif sosial, budaya, hingga psikologi.

Di Licorice Pizza, latar dekade 1970-an nya membuat jebakan ini semakin lebar. Masyarakat yang dapat dibilang masih konservatif saat itu bisa jadi jauh lebih judgmental apabila dibandingkan dengan masyarakat sekarang. Perspektif saat itu jelas saja jauh lebih kompleks apabila membahas masalah perbedaan usia ini.

Licorice Pizza adalah sebuah kisah cinta yang penuh ironi. Meski disajikan dengan asyik dan penuh dengan komedi yang diiringi lagi-lagu hits 70-an. Mungkin tidak segelap kisah cinta yang digambarkan Paul di Phantom Thread, tetapi sama sekali tidak mendekati manisnya asmara layaknya Punch-Drunk Love. Kisah yang digambarkan di sini juga masih jauh apabila dibandingkan dengan kisah perjalanan tokoh utama di Boogie Nights yang lebih layak digambarkan sebagai kisah pencarian keluarga, dibandingkan kisah cinta.

Licorice Pizza adalah sebuah eksperimen Paul Thomas Anderson dari segala sisi. Baik dari segi penulisan naskah, sinematografi, dan gaya bercerita. Walau tetap, film ini tidak akan bisa lepas dengan betapa kuatnya gaya penyutradaraannya yang sudah khas di film-film sebelumnya.

Film ini adalah film keduanya di mana ia tidak memakai jasa seorang sinematografer profesional. Alih-alih, ia meminta bantuan Michael Bauman yang selama ini lebih dikenal sebagai kepala bagian pencahayaan di berbagai film. Paul dan Michael sudah bekerja sama sejak film The Master (2012). Dan kini, mereka diberikan kredit bersama untuk bagian sinematografi. Dan memang, lumayan banyak shot-shot eksperimental yang meski mengandalkan tracking shot ala PTA tapi kali ini terlihat lebih dinamis apabila dibandingkan dengan gambar arahan Robert Elswit di film-film sebelumnya.

Menurut gue film ini adalah film Paul Thomas Anderson yang paling personal. Alasan pertama, Paul tidak banyak memakai aktor-aktor terkenal. Hanya Sean Penn, Bradley Cooper (dan Bennie Safdie) nama yang lumayan mentereng di sini. Selain itu, ia hanya menggunakan aktor yang berasal dari orang-orang terdekatnya. Seluruh keluarganya hadir di sini. Kedua pemain utamanya, Cooper Hoffman dan Alana Haim adalah dua aktor baru yang sebenarnya pun sudah dikenal lama oleh Paul.

Alasan kedua adalah film ini berlatar di dekade 1970-an yang merupakan dekade saat Paul menghabiskan masa kanak-kanaknya. Orang-orang seringkali mengatakan kalau masa anak-anak itu adalah masa yang indah di mana cara seseorang memandang dunia itu benar-benar belum bias. Hal ini juga keliatan di sini. Paul mencoba menggambarkan 70-an berdasarkan memorinya juga.

Paul sempat menyebutkan kalau hal yang paling diingat dari 70-an adalah embargo minyak yang berujung pada krisis bahan bakar di negaranya. Embargo ini dilakukan oleh Raja Faisal (Raja Saudi saat itu) sebagai respons terhadap Perang Israel-Palestina yang tidak kunjung selesai. Hal ini menjadi salah satu unsur yang turut membangun cerita film ini.

Kembali ke masalah pemeran utamanya. Kita mulai dari Alana Haim. Sebelumnya, Paul dan Alana sudah bekerja sama selama hampir satu dekade. Mereka bersama-sama mengerjakan album musik dari band yang digarap Alana bersama kedua saudarinya, Este dan Danielle.

Paul sendiri beberapa kali menyutradarai video klip untuk mereka dan membuatkan film pendek berjudul Valentine yang merupakan live performance Haim dalam satu sorot (you definitely should watch this one). Ia juga menjadi fotografer  untuk cover album terbaru mereka, Women in Music Pt. III. Dan yang paling menggemparkan adalah ibunya Haim bersaudari adalah guru seni Paul ketika SMA.

Untuk Cooper Hoffman sendiri, ia adalah anak dari rekan sekaligus sahabat Paul, mendiang Philip Seymour Hoffman. Orang yang hanya absen sekali (There Will Be Blood) dari film-filmnya Paul selama ia masih hidup. Konon, usai kematian Philip, Paul menjadi sosok father figure di kehidupan Cooper. Dan mungkin dari sini lah, Paul melihat adanya bakat akting yang kuat dari Cooper.

Semuanya memang terlihat bagaikan karena ikatan keluarga dan persahabatan, tetapi Alana sendiri menjamin kalau mereka terpilih bukan karena semata-mata ikatan. Tetapi karena mereka sudah melakukan proses yang dibutuhkan untuk mendapatkan peran yang ada di sini. Dan gue sendiri sangat setuju dan merasakan itu. Meski baru, penampilan Alana dan Cooper sama sekali bukan penampilan amatiran. Mereka tampil sangat bagus dan kuat. Kemistri di antara mereka juga sangat kokoh dan sangat sulit untuk diruntuhkan. Even if it's a nepotism, it's a positive nepotism.

Kembali ke filmnya. Banyak yang mengkritik kalau film ini mengglorigikasi p*d*f*lia. Tetapi bagi gue sendiri, Paul sama sekali tidak melakukan hal itu. Ia hanya menggambarkan hubungan tarik ulur antara kedua tokohnya dengan cara yang serealistis mungkin. Sangat terlihat adanya keraguan di antara kedua karakternya. Dan sama sekali tidak ada seruan untuk menormalisasi hal apapun yang dituduhkan oleh beberapa pihak yang berujung pada kampanye-kampanye anti-film ini.

Bahkan, sebenarnya apa yang ingin disampaikan Paul itu sangatlah dekat dengan dunia nyata. Karena bahkan menurut data statistik sekalipun, pernikahan dengan jarak usia yang jauh itu ada. Dan sebenarnya sudah banyak contohnya di sekitar kita. Film ini menangkap hal itu tanpa mencoba untuk berceramah soal moral atau apapun.

Bagi gue sendiri, seringkali orang-orang yang mengkritik hal-hal seperti ini menganggap dirinya sangat benar secara moral, tetapi sudut pandangnya seringkali malah menuduh ke arah yang salah. Tuduhannya seringkali terlalu tendensius dan berapi-api, tetapi kalau ditelaah malahan gak serta merta benar dan kadang-kadang dangkal pula.

Di wawancaranya, baik Paul maupun Alana mengatakan kalau hubungan kedua karakternya adalah sesuatu kesalahan, tetapi sulit untuk dihindarkan. Ya, hal ini memang benar. Kita tak bisa mengatur arah hati manusia. Kita seringkali berbuat kesalahan yang kita sudah sangat mencoba untuk menghindarinya, tetapi akhirnya terjebak juga. Dan Paul, sebagai salah satu sutradara yang sangat gemar memperhatikan manusia pun sangat memahami hal ini.

Pada akhirnya, andaikan pun perdebatan mengenai moralitas Licorice Pizza ini masih dilanjutkan, gue hanya ingin mengatakan kalau bagi gue film bukanlah film yang mengglorifikasi hal yang dituduhkan itu. Alih-alih, Licorice Pizza lebih layak disebut sebagai sebuah penggambaram kehidupan nyata yang memang sangat bias secara moral. Terutama apabila sudah berhubungan dengan cinta dan hati manusia.

Licorice Pizza adalah sebuah karya yang meski penuh dengan eksperimen, tetapi tetap berhasil digarap dengan sangat baik. Kombinasi dari segala hal di dalamnya berhasil membuat film ini sebagai film yang sangat layak untuk ditonton. Film ini dapat didiskusikan (dan diperdebatkan), jadi teruslah bijak menjadi seorang penonton. Dan juga menjadi seorang manusia.

Comments