Penyalin Cahaya dan Perjuangan Yang Gugur Sebelum Berkembang

 Oleh: Syafril Agung Oloan Siregar


Judul

: Penyalin Cahaya

Sutradara

: Wregas Bhanuteja

Penulis Skenario

: Wregas Bhanuteja

Genre

: Drama, Thriller, Misteri

Pemain

: Shenina Cinnamon, Chicco Kurniawan, Lutesha, Dea Panendra, Jerome Kurnia, Giulio Parengkuan, Ruth Marini, Lukman Sardi, Landung Simatupang, Rukman Rosadi, Yayan Ruhian

Rilis

: 13 Januari 2022 (Netflix)

Durasi

: 130 Menit


Wregas Bhanuteja dikenal sebagai salah satu sutradara muda Indonesia yang dianggap memiliki potensi besar dalam sinema Indonesia. Hal ini sudah terjadi sejak ia menggarap film pendek pertamanya, Lemantun yang langsung mendapatkan berbagai penghargaan dari berbagai pihak baik di dalam negeri maupun luar negeri.

Namanya kemudian semakin mencuat usai ia meraih penghargaan di Festival Film Cannes lewat film pendeknya yang lain, Prenjak (2016). Terakhir, ia meraih Piala Citra lewat film pendeknya Tak Ada Yang Gila di Kota Ini (2019) yang merupakan adaptasi dari cerpen karangan Eka Kurniawan berjudul sama. Dengan status seperti ini, wajar rasanya film ini menjadi salah satu film yang ditunggu-tunggu di jagat sinema Imdonesia.

Film ini semakin ditunggu usai meraih 12 Piala Citra dan menggemparkan penonton pada penayangan perdananya di tanah air di JAFF awal Desember 2021 lalu. Sayangnya, tiga hari sebelum film ini rilis salah satu penulis skenarionya terjerat kasus berat yang membuat film ini terkena berbagai kritikan bahkan sebelum filmnya rilis secara luas kepada insan perfilman. Gue gak akan membahas hal itu panjang karena bagi gue sudah jelas, gak ada ruang untuk kejahatan seperti itu. Itu adalah tindakan terkutuk dan gue akan berdoa untuk siapapun yang menjadi korban atas kejadian itu. Walau memang kejadian itu juga membuat berpikir, sebenarnya tujuan dia menulis film ini untuk apa. Gue berpikir beberapa kali, dan rasanya otak gue masih terlalu waras untuk memahami jalan pikiran super absurd seperti itu.

Film ini adalah sebuah mahakarya. Mungkin memang ternoda dengan kontroversi. Tetapi, film ini tetap sangat layak untuk disaksikan. Terutama untuk menghargai para kru dan pemain yang telah bekerja keras untuk menciptakan film ini. Karena film ini memang benar-benar sangat indah. Film ini membuat gue bertanya-tanya, tegang, dan menangis getir beberapa kali dengan kenyataan yang ada dan ditampilkan film ini.

Film ini ditulis dengan naskah yang sangat bagus, puitis, dan indah. Penulisan karakternya sangat kokoh dan sangat dekat dengan kehidupan. Karakter Sur, Min, Farah, Anggun, Tariq, adalah kita. Kita yang menghadapi kenyataan pahit yang bernama kenyataan. Kita yang hanya bisa melawan tanpa tahu apakah kita akan menang atau kalah. Kita yang dipenuhi dengan rasa takut kepada orang-orang penuh kuasa yang lebih mementingkan nama baik dibandingkan keadilan. Kita yang hanya orang biasa melawan para bajingan hipokrit yang telah buta dengan kehidupan yang fana.

Kemudian ada pula Medusa di sini. Gadis cantik yang dilecehkan oleh Poseidon yang merupakan seorang dewa. Lantas, alih-alih mendapatkan keadilan, ia malah dihukum seberat-beratnya. Poseidon tidak dihukum sama sekali atas apa yang telah ia perbuat. Absurd? Tetapi itu adalah sebuah bukti betapa visioner dan kritisnya masyarakat Yunani Kuno. Mereka adalah pemikir handal yang mampu membuat cerita-cerita ajaib seperti ini ribuan tahun sebelum masa sekarang.

Film ini memasukkan metafora Medusa ini menjadi salah satu unsur cerita yang membuat jalinan ceritanya semakin memiliki isi dan makna. Penggunaan metaforanya sama sekali tidak asal-asalan dibuat. Tetapi memang benar-benar telah dipikirkan secara matang dan baik.

Film ini pada dasarnya sangat berpihak pada korban. Siapapun itu, film ini dibuat untuk mendukung para penyintas. Film ini dibuat untuk menunjukkan kalau banyak orang yang peduli dengan pata penyintas. Karena mereka adalah pahlawan. Mereka adalah para Sur yang ada di dunia nyata.

Film ini juga awalnya memang dibuat untuk membuat orang-orang laknat yang telah merusak itu sadar, atau setidaknya tertampar dengan kelakuan mereka yang terlalu hina. Juga komplotan-komplotan mereka. Atau siapapun yang telah membantu para bajingan itu menyembunyikan kelakuan mereka demi nama baik. Ini dibuat untuk perjuangan.

Gue gak tau apakah perjuangan film ini akan berlanjut usai ini. Ataukah perjuangan ini lebih baik pupus saja bahkan sebelum semuanya dimulai. Dan semua itu adalah karena salah satu penulisnya yang membuat orang-orang terluka dan kebingungan dengan kelakuannya dan alasan sebenarnya film ini dibuat.

Comments